Content

Minggu, 11 September 2011

Recap [singkat]: My Girlfriend Is A Gumiho Ep.12


Episode 12
Mi Ho senangnya bukan kepalang mendapatkan ciuman dari Dae Woong. Apalagi Dae Woong menyematkan cincin ke jari manis tangan Mi Ho. Ingat, Mi Ho, ini asli lho bukan kontrak.
Dae Woong hendak mencium Mi Ho lagi. Tiba-tiba dadanya sakit.
Tidak mungkin! Manic rubahnya marah. Pasti gara-gara aura wanita itu yang mempengaruhinya. Ah, pasti Dae Woong berpikiran untuk kawin kan? Dae Woong mengelak. Tapi Mi Ho tahu dan dapat membacanya dari manic rubah. Hahaha,,, Dae Woong tidak dapat mengelak lagi.
Mi Ho minta dicium lagi. Tapi tetap tidak bisa, karena dada Dae Woong sakit.
Dae Woong mencoba sekali lagi. Dan tetap tidak berhasil.
Mi Ho mengusap-ngusap dada Dae Woong tempat manic rubahnya berada. Tenang. Huh, akhirnya mereka berdua tidak bisa berciuman lagi. Pasrah.
Mi Ho sedang sibuk menulis rencana masa depannya bersama Dae Woong. Menikah dengan Dae Woong. Memiliki anak dari Dae Woong. Semuanya dengan Dae Woong.
Ya ampun, Mi Ho! Dae Woong saja belum terpikir sampai kesitu. Lagipula Mi Ho belum jadi manusia.
Dan, Dae Woong mulai membayangkan dirinya menikah dengan Mi Ho. memiliki anak. Kebayang nggak saat Dae Woong memiliki delapan anak, dimana semua anak-anaknya merengek minta dibelikan daging. Dae Woong pusing sendiri!

Seperti biasanya donk, Mi Ho curhatnya sama Dong Joo. Mi Ho curhat tentang pengakuan cinta Dae Woong.
Dong Joo memberitahukan ke Mi Ho, ia akan pergi dari sini. ia sudah melanggar kesepakatan yang dibuatnya sendiri. ia sudah cukup lama tinggal disini. Mungkin ia akan pergi ke desa, atau mungkin sebuah pulau kecil.
Kalau Dong Joo di pulau kecil berarti Mi Ho tidak bisa datang berkunjung donk, kan Mi Ho takut air.
Lho? Bukannya Mi Ho takut api ya? Mi Ho cerita kalau ia terbuat dari api makanya itulah warna ekornya biru seperti api.


Ada yang frustasi tuh. Hye In frustasi gara-gara ada jerawat besar di wajahnya.
Mi Ho tertawa senang melihat wajah Hye In yang makin jelek. Bahkan ia berani mengancam Hye In. Ia akan hidup bahagia bersama dengan Dae Woong, sampai Hye In mengganggunya, siap-siap saja ia akan memberikan kutukan mantra ‘ommabarani.’
Hye In makin takutlah.
Dong Joo menangkap seorang goblin yang diam-diam membuntuti Mi Ho sedari tadi dari kliniknya, dan sekarang goblin-nya membuntuti Dae Woong. Goblin itu berkeliaran diluar karena tempat ia tinggal yaitu pohon-pohon telah ditebangi oleh manusia. Goblin itu mengincar manic rubah yang ada di dalam tubuh Dae Woong. Penciuman tajamnya dapat mengetahui kalau itu adalah manic rubah yang terbuat dari goblin-api.
Tidak mungkin! Goblin-api? Sepertinya itu bukan sesuatu yang kebetulan belaka. Kil Dal dan Mi Ho…

Kakek sangat terpesonda dengan Mi Ho. Mi Ho pandai memainkan seruling, menari tarian tradisional. Jelas saja Mi Ho bisa, kan semuanya itu sudah dipelajarinya 500 tahun yang lalu.
Min Seok agak tersinggung sama Mi Ho. Habisnya Mi Ho hanya makan daging, padahal kan Min Seok sudah masakin sup kacang, kubis, dan kimchi.
Mi Ho mengambil ragu-ragu terong di dalam mangkok kecil. Tiba-tiba Dae Woong menunjuk kulkas di belakang yang katanya baru. Kakek dan Min Seok langsung menoleh ke belakang. Nah, pada saat itulah Mi Ho menyuapkan terong itu ke dalam mulut Dae Woong.
Hmm, enak!
Nasinya tidak dimakan, Mi Ho?
Mi Ho mengambil banyak nasi dalam sendoknya. Lagi-lagi Dae Woong menunjuk ada Dong Ja di belakang kakek dan Min Seok. Kakek dan Min Seok langsung menoleh ke belakang. Secepat kilat Dae Woong menyuap nasi ke dalam mulutnya.
Terakhir Mi Ho mengambil kimchi. Dae Woong sudah menggeleng, jangan.

Mi Ho melihat foto-foto kecil Dae Woong. Kadang ia suka iri melihat orang-orang yang memiliki kenangan untuk dikenang.

Dae Woong lalu berinisiatif untuk membuat kenangan sendiri, yaitu dengan berfoto bersama Mi Ho. Nah, Mi Ho, itu adalah foto pertama yang harus dikenang.

Dong Joo pergi ke kuil untuk melihat lukisan Nenek Tiga Dewi. Ia sama sekali tidak menyadari kalau Mi Ho merupakan bagian dari manic rubah Kil Dal. Ia menyesal.

Mi Ho melihat pasangan kekasih sedang berjalan sambil menggelayut mesra. Mi Ho kesal karena manic rubahnya yang telah membuat jarak antara dia dengan Dae Woong.
Mari coba dengan yang ringan-ringan dulu. Bergandengan tangan. Tidak terjadi apa-apa. Menggelayut manja lengan Dae Woong, pun tidak terjadi apa-apa. Mi Ho lalu menarik tangan dae Woong agar dikalungkan di pundaknya. Sebenarnya ini tidak apa-apa. Namun, Dae Woong beralasan ini terlalu dekat.
Akhirnya mereka hanya bergandengan tangan saja.
Di depan sebuah toko, Dae Woong berhenti dan menyuruh Mi Ho untuk pulang duluan.

Sesampainya di loteng, Dong Joo menemui Mi Ho.
Dong Joo menyentuh pipi Mi Ho. Ia menyesal dan juga sangat merindukannya. Ia tidak akan pergi dan akan tetap disini untuk melindungi Mi Ho.
Mi Ho tidak mengerti. Dan terus mengatakan ia baik-baik saja.

Dae Woong membeli album foto untuk Mi Ho.
Di tengah jalan, Dong Joo menyegat Dae Woong. Ia harus memastikan dae Woong agar tetap menjaga dan melindungi manic rubahnya sampai akhir.
Dae Woong tahu itu, dan jangan lagi mengganggu mereka, karena mereka akan hidup bahagia.

Untuk menjadi seorang manusia, Mi Ho harus belajar makan nasi dan makanan yang lainnya. Jangan hanya daging melulu. Dae Woong bahkan seperti seorang ayah yang mengajari Mi Ho makan sayur.

Lokasi syuting.
Mi Ho sedih mendengar dari Hye In yang memberitahukan kalau Dae Woong menjadi ragu untuk syuting ke China gara-gara Mi Ho.
Mi Ho terus memanggil-manggil nama Dae Woong. Dae Woong datang dan menyentuntuh pipi Mi Ho.
Mi Ho menyakinkan Dae Woong agar jangan terlalu mengkhawatirkannya.
Sebenarnya Dae Woong ragu pergi ke China karena Mi Ho itu berbeda. Ayolah, dae Woong, Mi Ho bukan anak kecil lagi yang perlu dikhawatirkan.
“Maaf, karena aku bukan pacar yang normal,” sedih Mi Ho.
“yeah, pacarku adalah gumiho yang memiliki sembilan ekor. Dan juga memiliki sembilan sifat yang unik,” dae Woong menghibur Mi Ho.
“Apa itu?”
“Pertama, karena dia hanya ada satu-satunya di dunia. Dua, kau tidak perlu khawatir saat berjalan-jalan di tengah malam sendirian. Tiga, dia polos dan tidak pernah malu. Empat, kau berani karena tidak dimanapun dan kapanpun kau berteriak menyukaiku. Lima, kau percaya diri. Tidak pernahkah ada orang yang mengatakan dirinya cantik? Enam, dia sangat perhatian. Tujuh, menakut-nakuti orang dengan kematian. Delapan, aku percaya dia tidak akan pernah pergi dari sisiku. Sembilan, Mi Ho, aku sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat menyukaimu.” Dae Woong tersenyum sembari memberikan tembakan dengan dua jari tangannya. 
Mi Ho berpura-pura telah terkena tembakan Dae Woong. Mi Ho tak dapat menyembunyikan raut bahagianya.

Tibalah juga hari keberangkatan dae Woong ke China, selama dua bulan. Dae Woong memberikan album foto ke Mi Ho agar Mi Ho dapat mengisinya dengan kenangan.
Sebelum pergi, Dae Woong mengecup pipi Mi Ho. Betapa bahagianya Mi Ho mendapat kecupan itu.
Ok, Mi Ho, jaga loteng baik-baik. Jangan nakal!
Mi Ho mulai mengumpulkan satu-persatu foto-fotonya.
Mi Ho bersama kakek dan Dong Ja.
Mi Ho bersama Min Seok.
Mi Ho bersama Seon Nyeo.
Mi Ho bersama ahjumma.
Lha, fotoku sama Mi Ho mana, ya???

Dua bulan berlalu, Dae Woong pulang ke Korea. Sengaja ia datang tidak memberitahukan ke Mi Ho. Kejutan. Dae Woong tidak menemukan Mi Ho di loteng. Lalu, ia berjalan keluar dan mendengar seorang anak kecil merintih minta tolong.
Anak (goblin) itu berpura-pura tidak dapat berjalan. Dae Woong kasihan dan membopong anak itu dipunggung. Ternyata anak itu malah memukul punggung Dae Woong hingga pingsan.
Sewaktu di dalam mobil, belati milik Dong Joo bergerak-gerak. Itu menandakan ada makhluk-makhluk seperti gumiho yang berkeliaran. Dong Joo menepikan mobilnya cepat dan berlari keluar mobil. mi Ho hendak mengikutinya, namun dilarang Dong Joo. Karena belati itu terlalu berbahaya untuk Mi Ho.
Dae Woong tersadar dan sudah berada di dalam gym.
Goblin mengelus-ngelus dada Dae Woongtempat manic rubah berada. Ia meminta manic rubahnya, tapi dae Woong menolak.
“Jika kau terus berpegangan pada manic rubahnya, kau akan mati,” kata goblin memberitahu.
Dae Woong tidak mengerti.
Di saat itulah, Dong Joo datang dan melempar belati tepat melukai lengan goblin. Goblin kabur dan tidak berhasil dikejar Dong Joo.
Sementara itu, Mi Ho berhasil menangkap goblin dan menukas si goblin karena gara-gara goblin, ia tidak dapat dekat-dekat dengan Dae Woong.
“Kau itu yang jahat,” goblin balik menyerang Mi Ho. “Kau membiarkan manic rubahmu berada di tempat laki-laki itu dan menyerap semua auranya.”
Mi Ho tidak mengerti.
“Kau akan menjadi manusia, dan dia mati. Apa itu tidak jahat?”
“Apa maksudmu?” Mi Ho semakin tidak mengerti.
“Orang yang bersama denganmu juga tahu tentang hal itu.”
“Guru Dong Joo?”
“Iya!”
Dae Woong meminta konfirmasi dari Dong Joo mengenai maksud perkataan dari anak itu. apa maksudnya ia akan mati?
Dong Joo membalikkan fakta yang ada. Ia mengatakan, jika manic rubahnya dicuri maka Mi Ho akan mati.
Dae Woong kaget. Bagaimana bisa Mi Ho merahasiakan hal ini darinya?
Mi Ho sama sekali tdiak tahu mengenai kenyataan itu. Ia syok mendengarnya. Ia menangis dan hujan pun turun. Dae Woong, apa yang harus kulakukan?
Mi Ho menemui Dong Joo. Bagaimana Kil dal menghilang? Dong Joo menjawab, Kil Dal menghilang karena dikhianati oleh cinta. Dong Joo tidak akan membuat Mi Ho menghilang. Dong Joo sudah menyakinkan dae Woong agar mengembalikan manic rubah itu ke Mi Ho tepat 100 hari. Jika tidak maka Mi Ho akan mati.

Mi Ho pulang ke loteng. Tiba-tiba muncul Dae Woong di depannya persis. Mi Ho ekspresinya lempeng. Ia malah hendak menangis melihat Dae Woong.
Dae Woong sedikit kecewa karena Mi Ho tidak pernah memberitahukan hal itu mengenai diri Mi Ho yang sekarat tanpa manic rubah.
Dae Woong meminta mi Ho agar tetap disisinya, bersamanya, dan tinggal dengannya.
Mi Ho pun mengatakan hal yang sama. Mereka akan tinggal bersama.



Credit photo: dramabeans

Tidak ada komentar:

Kotak Pencarian

Memuat...

Mengenai Saya

Foto Saya
Seorang gadis yang sangat menyukai hal-hal yang berbau cute, sweet, happy, and colorfull.

Teman-Teman Phoo

Entri Populer